Sabtu, 05 Mei 2012

Caterina, Ibu Leonardo da Vinci



            Leonardo da Vinci bukanlah nama yang asing bagi semua orang di seluruh dunia. Ia lahir pada 15 April 1452 di Italita. Ia adalah seorang arsitek, musisi, penulis, pematung dan pelukis Renaissance asal Italia. Ia digambarkan sebagai arkatipe manusia renaissance dan seroang genius universal.
            Selain itu, Leonardo da Vinci juga dikenal sebagai ilmuwan ternama karena mendesain banyak karna yang menginspirasi teknologi modern yang jarang dibuat semasa hidupnya, seperti idenya tentang tank dan mobil yang dituangkan lewat gambar-gkanmengenal sebagai pelukis dengan karya termashurnya,  orang hanyambar dwiwarna dalam lukisannya. Ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi, teknik sipil dan kuliner.
            Dalam buku The Book of Genius, Tony Buzan dan Raymond Keene mnjelaskan bahwa Leonardo da Vinci adalah orang genius terbesar sepanjang sejarah. Bahkan, ia dianggap lebih genius dibandingkan dengan Albert Einstein dan Sir Isaac Newton. Selama ini, kebanyakan orang hanya mengenalnya sebagai pelukis dengan karya termasyhurnya, “Mona Lisa”. Ternyata bukan htu ide dan karya besar yang telah dihasilkan oleh Leonardo da Vinci.
            Dalam setiap karya yang dihasilkan oleh Leonardo da Vinci terkandung tanda spesifik. Karya yang dihasilkannya selama ini selalu fenomenal sekaligus controversial yang sarat dengan makna implicit. Popularitasnya pun tak pernah lekang dimakan zaman. Kegeniusan ilmuwan ini dikagumi seantero dunia, dan karyanyapun mengundang decak kagum banyak orang yang melihatnya. Kemudian, timbul sebuah pertanyaan besar dari sebagian besar orang, siapa dan apa yang membuat Leonardo da Vinci begitu kreatif dan genius ?
            Hingga kini, karya dan teori yang diciptakan oleh Leonardo da Vinci terus menjadi bahan perbincangan menarik. Namun, tampaknya tak banyak yang bisa diketahui tentang jati diri Leonardo da Vinci dan karya besarnya.
            Dalam beberapa decade terakhir, para ilmuwan dan pakar berusaha terus menguak misteri kehidupan dan karya-karya besar yang dihasilkan oleh Leonardo da Vinci. Mereka begitu yakin bahwa ada sebuah rahasia besar yang terkandung dalam salah satu karya terbesarnya, seperti arti senyuman khas pada lukisan “Mona Lisa”.
            Di balik semua misteri yang belum terungkap sepenuhnya itu, sebagian ilmuwan dan ahli sejarah sepakat bahwa yang mampu membentuk pribadi Leonardo da Vinci menjadi begitu jenius hingga melahirkan karya-karya fenomenal diyakini tidak lepas dari peran besar ibunya, Caterina.
            Caterina dianggap sebagai seorang ibu yang memiliki pengaruh yang sangat penting dalam membentuk pribadi dan jiwa sang maestro. Ia seakan menjadi tokoh di balik layar dalam menciptakan kesuksesan tokoh tersebut. Dalam berbagai literature diceritakan bahwa pada masa kecilnya, Leonardo da Vinci sangat disayang oleh ibunya. Pendidikan yang diberikan oleh ibunya inilah yang kemudian membimbingnya menjadi genius.
            Sementara itu, catatan tentang kehidupan Caterina tidak begitu banyak ditemukan. Dalam beberapa buku sejarah disebutkan bahwa pada masa remaja, Caterina dibesarkan di Dusun Vinci, Italia. Caterina bertemu Piero, pria yang menjadi tetangganya. Mereka pun jatuh cinta hingga akhirnya Caterina hamil di luar nikah.
            Meskipun sudah hamil, ternyata keluarga Piero tiak mau menerima kehadiran Caterina, apalagi menjadikannya menantu. Caterina begitu kecewa menerima kenyataan ini, tetapi ia tetap bertahan dengan segala cobaan hidupnya. Dengan penuh cinta dan kasih sayang, ia merawat bayinya, yang kemudian dikenal dunia dengan nama Leonardo da Vinci.
            Caterina merupakan sosok wanita istimewa pada zamannya. Ia adalah sosok wanita yang cerdas dan kritis. Ia berani menjalani kehidupan yang berbeda dengan wanita seusianya ketika itu. Saat berusia belasan tahun, ia tidak tertarik mencari pria pendamping hidupny, sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman sebayanya.
            Bahkan, Caterina mendapat cap “wanita yang aneh”. Ia lebih tertarik pada hobiny yang meracik ramuan obat, serta terus berguru pada ayahnya guna mendapatkan jawaban atas segala masalah dalam kehidupannya. Ia tidak menggubris kado pemberian bibinya, yaitu sebuah lemari yang berisi pernak-pernik persiapan pernikahannya kelak.
            Caterina lebih suka bergelut dengan manuskrip-manuskrip dan salinan pemikiran filsuf besar, seperti Plato, Timeteus, dan karya-karya pemikir besar yang sudah using dalam bahasa Yunani. Ia sadar bahwa tidak ada pria yang ingin menikahi wanita yang terpelajar sepertinya.
            Ayahnya, Ernesto, pun menyadari bahwa anak gadisnya memang tergolong mainstream, yaitu pemberontak serta berjiwa peneliti dan filsuf. Sejak kecil, caterina sering kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan muatan kritis. Sebagai seorang ayah, Ernesto pun kerap mendesaknya agar segera menikah. Jika sang ayah memintanya menikah, Caterina akan berkata, “tidak ada satu pun pria yang cocok denganku di daerah Vinci”.
            Dalam beebrapa literature lainnya disebutkan bahwa Caterina adalah seroang wanita keturunan Timur Tengah. Hal ini pernah diungkapkan oleh peneliti dari Italia, Vezzosi. Dari hasil penelitiannya di kota Vinci, ia mengungkapkan sebuah bukti kuat bahwa ayah Leonardo da Vinci ialah seorang tukang bernama Ser Piero da Vinci. Tukang itu memiliki seorang budak wanita asal Timur Tengah bernama Caterina.   
            “kepemilikan budak dari Timur Tengah biasa terjadi pada abad ke-15”, demikiran pernyataan Vezzosi.
            Pada tahun 1452, ketika Leonardo da Vinci dilahirkan, sebuah undang-undang dikeluarkan di Florence, Italia, yang isinymemberikan kewenangan lebih luar kepada para majikan atas budak-budak yang mereka miliki.
            Kenyataan bahwa Caterina adalah seorang budak juga diperkuat oleh sebuah riset yang dilakukan oleh Fracesco Cianchi. Saat itu, ia berucap, “tidak ada Caterina di Vinci atau desa terdekat yang dapat dikatikan dengan Ser Piero. Satu-satunya Caterina dalam kehidupan Piero adalah seorang budak wanita yang tinggal di dalam rumah temannya yang kaya raya, yakni Vanni di Niccolo di ser Vann”.
            Dalam wasiatnya bankir asal Florence itu menitipkan Caterina kepada istrinya. Namun, saat meninggal pada tahun 1451, rumahnya diberikan kepada teman dekatnya, Ser Piero. Fakta bahwa janda sang bankir tetap tinggal di rumah tersebut dan mempekerjakan pembantu baru menguatkan dasar teori bahwa Ser Piero mengizinkan sang janda tinggal di sana agar dapat membebaskan Caterina. Namun sejak itu pula, catatan tentang budak wanita dari Florence menghilang. Beberapa bulan setelah kelahiran Leonardo da Vinci, ibunya menikah dengan pria lainnya.
            Lugi Capasso, seorang antropolog dari Chieti University, mengatkaan bahwa di tangan para peneliti Italia, secara perlahan misteri latar belakang Ibu Leonardo da Vinci mulai tersibak. Dari hasil isolasi dan rekonstruksi sidik jari yang dilakukan terhadap jasad Leonardo da Vinci, terungkap bahwa ada kemungkinan Leonardo da Vinci memiliki garis keturunan Arab. Nah, sidik jari itulah yang merupakan satu-satunya jejak biologis sang genius asal Florence tersebut.
            Dalam perjalanan hidupnya, Leonardo da Vinci berhasil menjadi seniman ternama. Pada tahun 1466, ia mengenal Andrea Verrocchio, seorang pelukis dan pemahat ternama saat itu. Bersama Verrocchio, Leonardo da Vinci memperoleh sejumlah keterampilan yang akhirnya menjadi bekal kehidupannya yang berharga, seperti melukis, mematung, melebur emas (goldsmithing), dan pencetakan perunggu.
            Saat berusia 30 tahun, Leonardo da Vinci bekerja pada seorang kepala daerah Milan bernama Sforza selama 17 tahun sebagai pelukis, insinyur dan penasihat militer. Lalu, ia bekerja pada Raja Prancis, Louis XII, pada usia 54 tahun dan melukis “Mona Lisa” . lukisan tersebut begitu terkenal hingga saat ini karena mengandung misteri. Mengenai wanita dalam lukisan itu pun sampai sekarang masih menjadi misteri.
            Pada beberapa literature disebutkan bawha senyuman misterius, tatapan aneh dan wajah anggun yang terpancar dari lukisan itu merupakan perwujudan dari Caterina, sang ibu yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
            Walter Pater, salah seorang penulis biografi Leonardo da Vinci, pernah menyatakan bahwa dalam lukisan “Mona Lisa” terdapat sesuatu yang ekspresif dari suatu yang diinginkan oleh banyak pria. Menurunya, Leonardo da Vinci juga melukis dengan sangat sensitive tentang senyuman yang tidak dapat diduga, yang selalu menyentuh “sesuatu yang kejam” yang ada di dalam jiwa Leonardo da Vinci.
            Pandangan serupa juga pernah disampaikan oleh Marie Herzfeld (1906). Menurutnya ada kemungkinan bahwa Leonardo da Vinci terpesona oleh senyuman wanita bernama Mona Lisa karena alasan tertentu yang membuat sesuatu yang lama terpendam di dalam diirnya akhirny muncul sebagai sebuah kenangan lama. Kenangan tersebut mengandung arti yang penting baginya sehingga ia tidak pernah terbebaskan dari dirinya semenjak pertama kali mengalaminya, dan terus mendorongny untuk memberikan ekspresi terhadap kenangan tersebut.
            Beberapa orang juga beranggapan bahwa semasa kecil, Leonardo da Vinci melihat sebuah wajah seperti wajah wanita bernama Mona Lisa, yang terbentuk di dalam diri Leonardo da Vinci melalui mimpi-mimpinya. Mereka juga menegaskan bahwa wanita yang tersenyum dalam lukisan “Mona Lisa” tak lain adalah pengulangan atas gambaran tentang ibunya, Caterina.
            Bahkan, dalam lukisan lainnya karna Leonardo da Vinci, seperti lukisan “st. Anne with two others” dan “st. Anne with the Madonna and child” yang menunjukan senyuman yang begitu indah, juga merupakan perwujudan ibu Leonardo da Vinci.
            Sejak tahun 1516, Leonardo da Vinci menetap di Chateau de Cloux atas undangan Raja Francis 1. Lalu, pada tahun 1517, Leonardo da Vinci menerima kunjungan Kardinal Louis Aragon. Kepada cardinal inilah, ia menunjukan karyanya yang terakhir.
            Leonardo da Vinci meninggal pada 2 Mei 1519. Selanjutnya, ia dimakamkan di Gereja St.Florentin di Amboise. Ia meninggalkan banyak karya besar bersama misteri yang terdapat di dalamnya, serta misteri keberadaan sang ibu yang telah membesarkannya penuh kasih sayang.

dikutip dari buku karya Abdul Syukur - Bidadari bidadari hebat dibalik tokoh-tokoh hebat

0 komentar:

Poskan Komentar

 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog